Riset UNIMUGO Ungkap Tantangan Program Tripel Eliminasi Ibu Hamil di Kebumen


Dr. Siti Mutoharoh, S.ST., MPH saat menyiapkan orasi ilmiah.(ft ist)
KEBUMEN, (seputarkebumen.com)- Program tripel eliminasi pada ibu hamil di Kabupaten Kebumen dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam meningkatkan cakupan pemeriksaan HIV, Hepatitis B, dan sifilis. Hal itu terungkap dalam orasi ilmiah yang disampaikan Dr. Siti Mutoharoh, S.ST., MPH pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Dalam paparannya, Dr. Siti menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan merupakan implementation research atau riset implementasi terkait pelaksanaan program tripel eliminasi di Kabupaten Kebumen. 


Penelitian tersebut bertujuan melihat sejauh mana layanan kesehatan ibu hamil telah berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Menurutnya, HIV, Hepatitis B, dan sifilis masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu dan bayi karena dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui.


“Keberhasilan program kesehatan bukan hanya soal ada atau tidaknya program, tetapi bagaimana program itu dijalankan secara konsisten dan sesuai standar di lapangan,” ujarnya.


Ia mengungkapkan, Kabupaten Kebumen pada tahun 2022 sempat menjadi daerah dengan kasus HIV tertinggi ketiga di Jawa Tengah sebanyak 130 kasus dan kasus AIDS tertinggi pertama sebanyak 47 kasus.


Program tripel eliminasi sendiri telah dijalankan di puskesmas, namun cakupan pemeriksaan ibu hamil masih belum optimal. Berdasarkan hasil penelitian, cakupan pemeriksaan pada periode 2020 hingga 2023 masih berada di kisaran 75 hingga 84 persen, atau belum mencapai standar WHO sebesar minimal 95 persen.

Meski demikian, seluruh ibu hamil yang terdeteksi positif disebut telah mendapatkan penanganan sesuai standar pelayanan kesehatan.


“Hasil penelitian menunjukkan tantangan utama bukan pada pengobatan, tetapi bagaimana menjangkau lebih banyak ibu hamil agar melakukan pemeriksaan sejak dini,” jelasnya.


Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan menganalisis data program tripel eliminasi tahun 2020-2023 serta wawancara mendalam dengan bidan, petugas laboratorium, pengelola program kesehatan, dan ibu hamil.


Dari hasil penelitian, ditemukan sejumlah kendala seperti kurangnya informasi kepada ibu hamil, variasi pelaksanaan layanan di lapangan, rasa takut untuk diperiksa, jarak fasilitas kesehatan, hingga dukungan keluarga yang belum maksimal.


Namun demikian, penelitian juga menemukan adanya faktor pendukung kuat, terutama peran bidan dan kader kesehatan dalam memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.


Dr. Siti menekankan pentingnya penguatan kebijakan, standarisasi SOP, peningkatan pelatihan tenaga kesehatan, monitoring program, serta edukasi masyarakat untuk meningkatkan keberhasilan program tripel eliminasi di Kebumen.


“Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada fasilitas layanan kesehatan, tetapi juga keterlibatan masyarakat, keluarga, kader, dan pemerintah desa,” tambahnya.


Di akhir orasinya, Dr. Siti menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Gombong, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta para promotor dan keluarga yang telah mendukung penyelesaian studi doktoralnya.(*)