![]() |
| Anggota DPR RI, Ir. KRT Darori Wonodipuro, MM, IPU menyerahkan simbolis wayang kepada Dalang Ki Yakut Jedher.(ft ist) |
Sejak pagi hari, ribuan masyarakat telah memadati lokasi untuk mengikuti pengajian khusus muslimah. Tercatat lebih dari 3.000 jemaah hadir, menunjukkan antusiasme tinggi warga dalam menyambut momentum kebersamaan pasca-Idulfitri.
Memasuki malam hari, suasana semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang kondang asal Banyumas, Ki Yakut Jedher. Pertunjukan ini menjadi magnet tersendiri, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Perwakilan keluarga, dr. Hasan Bayuni, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut sarat makna. Pengajian di pagi hari mencerminkan ketaatan spiritual, sementara pagelaran wayang menjadi simbol komitmen dalam nguri-uri budaya agar tetap lestari, khususnya di Kebumen.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kebumen turut menyampaikan apresiasi atas konsistensi Darori dalam menjaga kedekatan dengan masyarakat meski memiliki tanggung jawab di tingkat nasional. Menurutnya, kehadiran tokoh nasional di tengah masyarakat menjadi energi positif bagi pembangunan daerah.
“Kebersamaan seperti ini adalah kekuatan. Ketika pemimpin tetap dekat dengan masyarakat, maka aspirasi akan lebih mudah terserap dan diwujudkan dalam pembangunan,” ungkapnya.
Ia juga menilai pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi yang sarat nilai. Lakon “Yuwana Astina” disebutnya mengandung pesan kepemimpinan yang kuat—tentang keberanian, keteguhan, serta komitmen membangun kesejahteraan pasca konflik.
Sementara itu, Darori menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai fondasi kebersamaan. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat yang kembali mempercayainya untuk melanjutkan pengabdian di DPR RI.
Tak hanya itu, Darori turut membagikan rencana pembangunan dermaga di kawasan Suwuk yang diharapkan mampu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir Kebumen.
Di akhir penyampaiannya, Darori juga mengisahkan filosofi gelar kebangsawanan “Wonodipuro” yang disematkan oleh Keraton Yogyakarta, yang berarti “Sang Penjaga Hutan”. Makna tersebut selaras dengan perjalanan panjang pengabdiannya di bidang kehutanan, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Dengan perpaduan nilai religius, budaya, dan semangat kebersamaan, halalbihalal ini tak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga momentum memperkuat harmoni antara masyarakat, budaya, dan arah pembangunan daerah.(*)







