Misteri Makam Keramat di Desa Grenggeng : Antara Syekh Baribin dan Haryo Panulahar


Acara Sarasehan Budaya Syekh Baribin dan Adipati Djana di di Balai Pertemuan Bodeh, Desa Grenggeng.(ft ist)
KARANGANYAR, (seputarkebumen.com)– Siapa sebenarnya sosok agung yang bersemayam di makam yang selama ini diyakini sebagai makam Syekh Baribin di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen? Pertanyaan sarat misteri sejarah ini mengemuka dalam Sarasehan Budaya Syekh Baribin dan Adipati Djana, Sabtu (31/10/2026) malam.

Sarasehan yang dihelat di Balai Pertemuan Bodeh, Desa Grenggeng, ini berhasil memantik diskusi hangat setelah mengungkap adanya tabir perbedaan perspektif sejarah lokal. Sejumlah literatur sejarah justru mengarah pada nama Haryo Panulahar, sementara masyarakat luas selama ini mengenal tempat tersebut sebagai peristirahatan terakhir Syekh Baribin.


Mengusung tema “Sosok, Peran Islamisasi dan Kehistorisannya dalam Konteks Geopolitik di Masa Lalu”, acara ini menghadirkan narasumber kompeten: Dr. Muhammad Yaser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta sejarawan asal Banyumas, Nassirun Purwokartun.


Panitia acara sekaligus anggota Komunitas Kawisesan, Andi Kurniawan, menjelaskan bahwa sarasehan ini sengaja digelar untuk membuka ruang dialog ilmiah terhadap berbagai versi sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, pelestarian makam harus berjalan beriringan dengan upaya mendalami identitas tokoh secara objektif.


“Karena ada banyak versi tutur tentang Syekh Baribin, kami mencoba menghadirkan perspektif arkeologi dan sejarah. Tujuannya tentu untuk pelestarian situs sekaligus membangun jati diri masyarakat Grenggeng agar memiliki kebanggaan atas identitas sejarahnya sendiri,” ungkap Andi.


Ia membeberkan, salah satu literatur yang dibahas secara mendalam dalam forum tersebut mengindikasikan bahwa sosok yang dimakamkan di lokasi itu bukanlah Syekh Baribin, melainkan Haryo Panulahar.


Meski demikian, Andi mengingatkan agar perbedaan informasi ini tidak serta-merta memicu perdebatan kusir. Tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun maupun literatur tertulis harus diposisikan sebagai kepingan puzzle yang sama-sama berharga.


“Kita harus bijak membedakan mana sejarah lisan dan mana yang berbasis literatur tertulis. Keduanya wajib kita hargai karena memiliki satu napas yang sama, yakni semangat melestarikan tradisi dan napas keislaman masyarakat,” tegasnya.


Jejak 17 Titik Makam Kuno


Kepala Desa Grenggeng menilai sarasehan ini merupakan langkah progresif untuk memperkaya pemahaman warga mengenai peran besar para ulama dan tokoh masa lalu dalam menyebarkan Islam di tanah mereka.

Berdasarkan analisis batu nisan kuno yang ditemukan, usia makam di kawasan tersebut diperkirakan berasal dari periode 1600-an hingga awal 1700-an masehi. Namun, teka-teki sejarah Grenggeng ternyata jauh lebih luas dari sekadar satu titik makam.


Kawasan Candiwulan dan Gunung Grenggeng menyimpan kompleksitas tersendiri dengan keberadaan sekitar 17 titik makam kuno, yang beberapa di antaranya bahkan sudah tertimbun tanah. Fakta ini membuka peluang besar akan adanya tokoh-tokoh penting lain yang belum teridentifikasi dan memerlukan riset lanjutan.

Pihak desa juga mengimbau agar ragam versi sejarah disikapi dengan kepada dingin dan terbuka, alih-alih diperdebatkan dalam ranah yang saling menyalahkan.


“Prinsipnya, kita tetap memuliakan para ulama dan leluhur, khususnya para penyebar Islam yang telah menanamkan nilai-nilai kebaikan di Desa Grenggeng,” tuturnya.


Beda Generasi dan Silsilah


Dalam pemaparan silsilah di forum tersebut, terungkap bahwa Syekh Baribin merupakan keturunan dari Brawijaya IV, sementara Haryo Panulahar dikaitkan dengan garis keturunan Brawijaya V. Perbedaan genealogi inilah yang menjadi salah satu titik krusial dalam membedah dua figur besar tersebut.


Kepala desa turut menyinggung literatur yang merujuk pada Babad Banyumas serta catatan arsip tahun 1877 tentang sejarah makam Grenggeng. Dalam cerita yang dihimpun, Haryo Panulahar dikisahkan wafat dan kemudian dijemput oleh muridnya yang menjabat sebagai Adipati Pucang di Desa Kedungpuji—wilayah yang bertetangga langsung dengan Desa Grenggeng.


Kendati demikian, kepastian mutlak mengenai siapa sosok yang sebenarnya berada di balik pusara tersebut masih memerlukan penelusuran panjang. Perpaduan antara tradisi lisan, naskah kuno, silsilah keluarga, hingga uji arkeologis mutlak diperlukan guna merajut sejarah yang utuh.


Bagi warga Grenggeng, sarasehan ini melampaui sekadar perdebatan nama tokoh. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah wujud nyata kecintaan warga dalam merawat warisan leluhur dan menghormati para pendahulu yang membabat alas peradaban Islam di bumi Kebumen.


Di tengah dinamika perbedaan pendapat, komitmen untuk merawat situs sejarah dan meneladani ketokohan mereka tetap menjadi detak jantung utama masyarakat Desa Grenggeng.(*)