![]() |
| Jalan di jalur Karanggayam–Kebakalan, Desa Clapar, Kecamatan Karanggayam longsor dan membahayakan pengguna jalan.(ft ist) |
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penanganan permanen dari pihak terkait. Padahal, titik longsor sepanjang 30 meter dengan lebar kikisan 2,5 meter tersebut terus mengintai keselamatan warga yang melintas.
“Ya khawatir sekali, takut nggelimpang (terguling). Sering lewat sini, kalau bisa ya segera diperbaiki kembali,” ujar Sarbini, salah seorang pengendara yang kerap melintasi jalur maut tersebut, Rabu (12/8/2026).
Pernah Makan Korban & Jalur Utama Pendidikan-Ekonomi
Bencana longsor ini sebenarnya sudah terjadi sejak 9 November 2025 lalu pasca-hujan deras melanda wilayah tersebut. Kini, badan jalan yang tersisa sangat sempit dan hanya bisa dilalui kendaraan roda empat secara bergantian dan ekstra hati-hati.
Kepala Desa Clapar, Murtini, mengonfirmasi bahwa lokasi kritis itu berada di Dukuh Sudikampir (RT 07 RW 01). Ia menegaskan bahwa jalan ini adalah akses vital satu-satunya yang menghubungkan Karanggayam menuju Kebakalan, Karangsambung, Pejagoan, hingga ke pusat Kota Kebumen.
Murtini membeberkan bahwa lokasi tersebut bahkan sudah sempat memakan korban jiwa, meski beruntung tidak sampai menelan korban fatal.
“Jalur itu merupakan nadi ekonomi dan akses anak-anak sekolah. Bahkan menjadi satu-satunya akses dari Desa Clapar menuju kota,” tegas Murtini.
“Pernah ada pengendara yang terjatuh di situ. Alhamdulillah tidak sampai parah, tapi tentu ini sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.
Ancaman Longsor Susulan Bayangi Warga
Pemerintah Desa dan masyarakat Clapar kini hanya bisa berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan perbaikan permanen sebelum musim hujan kembali memuncak.
Dua ancaman besar membayangi: terputusnya total akses perekonomian warga serta potensi longsor susulan yang bisa menelan korban baru jika perbaikan tak kunjung direalisasikan.
“Kalau tidak segera diperbaiki, ketika musim hujan tiba kemungkinan besar bisa terjadi longsor susulan dan jalan bisa putus total,” pungkas Murtini.(*)








