Retak dan Amblas 1 Meter: Jembatan Cacaban Kebumen Nyaris Putus


Kondisi jembatan sungai Cacaban yg rusak dan membahayakan pengguna jalan.(FT ist)
KARANGGAYAM, (seputarkebumen.com)-Ancaman bahaya membayang-bayang warga Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam, Kebumen. Jembatan Sungai Cacaban—urat nadi transportasi yang menghubungkan Kabupaten Kebumen dan Banjarnegara—kini berada dalam kondisi kritis dan nyaris roboh.

Pondasi jembatan sepanjang 50 meter dan lebar 6 meter ini terus amblas secara drastis pascabencana banjir besar berturut-turut pada 2021 dan 2025. Saat ini, posisi jembatan terlihat miring parah dan mengalami patahan berbahaya di bagian tengah.

Kepala Desa Wonotirto, Suradi, mengungkapkan bahwa kemiringan jembatan akibat pondasi yang amblas kini sudah mencapai 90 sentimeter hingga 1 meter.

"Awalnya amblas saat banjir besar 2021, lalu makin parah setelah diterjang banjir lagi di 2025 yang membuat pondasinya merosot hampir setengah meter. Sekarang pondasi cuma tertahan batu wadas di bawahnya. Kalau dihantam banjir besar sekali lagi, jembatan ini sangat mungkin langsung putus," tegas Suradi dengan nada cemas.

Bukan sekadar penyeberangan lokal, Jembatan Cacaban adalah akses krusial penghubung antar-kabupaten (Kebumen–Banjarnegara) sekaligus perlintasan utama Kecamatan Karanggayam dan Karangsambung.

Setiap harinya, jembatan ini menjadi tumpuan bagi anak-anak yang pergi sekolah, warga yang berobat ke puskesmas, hingga lalu lalang petani yang mengangkut hasil bumi ke pasar. Jika struktur ini sampai ambruk, aktivitas ekonomi dan sosial ribuan warga dipastikan bakal lumpuh total karena jalur alternatif yang ada sangat jauh dan tidak efisien.

Rasa Horor Pengendara dan Peringatan Musim Hujan

Kerusakan fisik yang kian mengkhawatirkan ini merenggut rasa aman para pengguna jalan, khususnya pengemudi kendaraan berat. Rasmin, salah seorang sopir truk yang rutin melintas, mengaku selalu dirayapi rasa takut tiap kali menginjakkan roda di atas jembatan tersebut.

"Kondisinya memprihatinkan banget. Jujur, saya ngeri dan takut jembatannya langsung ambles pas truk saya di tengah. Kita cuma bisa berharap segera diperbaiki sebelum makan korban atau benar-benar putus," ungkap Rasmin.

Pemerintah desa setempat telah memasang papan peringatan darurat agar pengendara ekstra waspada. Namun, solusi sementara itu jelas tak cukup. Dengan musim hujan yang makin dekat, kecemasan warga kian memuncak. Debit air Sungai Cacaban yang berpotensi meluap sewaktu-waktu bisa menjadi "pukulan terakhir" yang merobohkan jembatan.

Kini, warga Wonotirto hanya bisa menggantungkan asa pada respons cepat Pemerintah Kabupaten Kebumen maupun Pemerintah Pusat. Mereka berharap penanganan konkret segera dilakukan sebelum bentang beton tersebut berubah menjadi petaka dan memakan korban jiwa.(*)