![]() |
| jembatan Indrosari dengan separuh badan jembatan ambrol ke dasar sungai.(ft ist) |
Jembatan berukuran 4×4 meter yang melintasi Sungai Luweng ini sejatinya merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kebumen di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Tak sekadar penghubung ruas jalan Arjowinangun–Indrosari, jembatan ini menjadi jalur vital menuju area persawahan dan akses utama mobilitas warga menuju Pasar Hewan Argopeni Kebumen.
Petaka terjadi pada akhir Oktober 2025. Hujan deras berkepanjangan memicu meluapnya Sungai Luweng. Aliran air deras yang membawa tumpukan material sampah menyumbat kolong jembatan hingga menghantam pondasi hingga bergeser. Buntutnya, hampir separuh badan jembatan ambrol ke dasar sungai.
Meski tim gabungan BPBD dan DPUPR Kebumen sempat menerjunkan penanganan darurat untuk memulihkan aliran air pasca-kejadian, hingga pertengahan 2026 ini belum ada tanda-tanda konstruksi permanen akan dibangun.
Satu di antara warga setempat, Husni Mubarok, mengaku terpaksa bertaruh keselamatan setiap hari demi bisa menggarap sawah dan berniaga di Pasar Hewan Argopeni.
"Sudah hampir setahun belum ada penanganan. Kerusakannya parah karena banjir dan sampah menyumbat, sampai penyangga bawah bergeser lalu ambrol," tutur Husni.
Ketakutan warga kian memuncak ketika malam tiba. Tanpa penerangan jalan yang memadai, celah ambrolnya jembatan peninggalan era kolonial Belanda ini menjelma menjadi ancaman mematikan bagi pengguna jalan yang tak paham medan.
"Kalau malam sangat berbahaya karena gelap gulita. Kami khawatir ada pengendara yang tidak tahu kondisi jalan lalu terperosok ke sungai. Kami sangat berharap ada perbaikan secepatnya," tambahnya.
Kondisi ini makin mengelus dada lantaran Pemerintah Desa Indrosari sebenarnya sudah berkali-kali melayangkan peringatan dan usulan perbaikan jauh sebelum jembatan itu roboh.
Kepala Desa Indrosari, Chosin, menjelaskan bahwa sebelum peristiwa naas pada 28 Oktober 2025—seminggu setelah desanya menggelar tradisi Merti Bumi—pihaknya telah mengabarkan kondisi kritis jembatan kepada Pemerintah Kabupaten.
"Sebelum ambruk kami sudah berulang kali mengusulkan perbaikan karena kondisinya mulai mengkhawatirkan, tapi tidak ada tindak lanjut. Justru setelah ambruk, banyak pejabat datang meninjau. Namun ironisnya, sampai detik ini belum juga diperbaiki," ungkap Chosin saat ditemui di kantornya, Rabu (5/8/2026).
Chosin menerangkan, titik yang ambrol merupakan struktur hasil pelebaran di sisi barat jembatan. Penyangga beton di bagian tersebut tak sanggup menahan hantaman arus dan pengikisan air. Mengingat kawasannya tergolong rawan banjir, ia berharap perbaikan mendatang membawa desain konstruksi yang jauh lebih kokoh dan ramah aliran sungai.
Ia pun menegaskan bahwa penanganan Jembatan Indrosari tidak bisa lagi ditunda-tunda. Sebagai jalan penghubung antardesa di Kecamatan Buluspesantren, kelumpuhan akses ini berdampak langsung pada distribusi hasil panen dan denyut ekonomi warga.
"Kami dari pemerintah desa memohon dengan sangat agar jembatan ini segera diperbaiki secara permanen. Jangan menunggu sampai ada korban jiwa atau kerusakan meluas. Kami ingin akses kendaraan, terutama roda empat, kembali normal agar perekonomian masyarakat tidak terus terganggu," tegas Chosin.(*)








