Akses Vital Lumpuh Total, Warga Plarangan Kebumen Menanti Realisasi Pembangunan Jembatan


Kondisi jembatan Kalongbali yang putus mengakibatkan warga harus memutar jalan untuk menuju tujuan.(ft isk) 
KARANGANYAR, (seputarkebumen.com)Perjuangan warga Dukuh Kalongbali dan Dukuh Sikenong di Kelurahan Plarangan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, belum berakhir. Hampir dua tahun berlalu sejak diterjang banjir besar pada 9 November 2024 lalu, Jembatan Kalongbali yang menjadi satu-satunya penghubung vital antarwilayah masih dibiarkan terbengkalai dan tak kunjung diperbaiki.

Kondisi ini memaksa warga memutar jalan hingga 2 kilometer demi menjalankan aktivitas harian. Tidak hanya mengganggu warga setempat, akses lintasan bagi masyarakat Desa Giripurno dan Desa Candi menuju kawasan Karanganyar serta Karanggayam pun turut lumpuh.

"Warga sudah terlalu lama menunggu. Saat ini masyarakat benar-benar merasa terisolir. Kami berharap pihak terkait secepatnya membangun kembali jembatan ini," tegas Kepala Lingkungan Kalongbali sekaligus Ketua RW 05 Plarangan, Singgih Suseno.

Dampak Masif: Dari Ekonomi hingga Pendidikan

Putusnya jembatan sepanjang 80 meter dan lebar 1,5 meter tersebut membawa dampak domino bagi kehidupan masyarakat:

01. Sektor Ekonomi: Distrubusi hasil pertanian terhambat dan pengangkutan material bangunan menjadi sulit serta memakan biaya lebih mahal.

02. Sektor Pendidikan: Angka murid di TK PGRI setempat menurun drastis karena para orang tua enggan membiarkan anak-anak mereka menempuh jalur alternatif yang jauh lebih berisiko.

03. Kegiatan Keagamaan: Akses menuju masjid terhambat, memaksa warga mengambil rute melingkar untuk beribadah.

04. Kondisi Darurat: Kejadian memprihatinkan sempat terjadi saat prosesi pemakaman seorang warga. Jenazah terpaksa ditandu menerobos Sungai Karanganyar setinggi pinggang dewasa karena pemakaman berada di sisi selatan sungai.

Kronologi Ambruk dan Ancaman Susulan

Ketua RT 05/RW 05 Dukuh Kalongbali, Sariban, mengenang detik-detik robohnya fasilitas penyeberangan tersebut. Peristiwa bermula saat hujan deras mengguyur wilayah Karanganyar sekitar pukul 19.00 WIB.

"Arus sungai sangat deras dan membawa material longsoran serta kayu-kayu besar. Tiang jembatan tidak kuat menahan hantaman material hingga akhirnya runtuh," jelas Sariban.

Pasca-kejadian, warga sempat bergotong-royong membuat struktur bronjong di area belakang masjid untuk menahan laju erosi. Namun, konstruksi darurat tersebut kini mulai tergerus derasnya luapan sungai, mengancam keselamatan kawasan permukiman di sekitarnya jika tidak segera mendapat penanganan permanen dari pemerintah daerah.(*)