![]() |
| Tatyono Warga Desa Krakal Kecamatan Alian yang hidup dalam kemiskinan.(ft sk) |
Di usianya yang hampir menginjak kepala lima, Taryono harus menelan pil pahit kehidupan. Ia hidup sebatang kara. Tidak ada hangatnya canda tawa anak dan istri, tidak pula ada kehadiran saudara tempatnya mengadu atau bersandar. Di dalam rumah itu, ia benar-benar sendiri, ditemani sepi dan bayang-bayang kemiskinan.
Kondisi rumah yang ditempatinya pun sangat memilukan dan mengancam keselamatan jiwanya. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu kini sudah lapuk, bolong, dan miring bersandar pada tiang yang ringkih. Di bagian dalam, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Kayu-kayu penyangga atap sudah banyak yang patah.
Ketika musim hujan datang, rumah ini berubah menjadi tempat yang mengerikan bagi Taryono. Air hujan langsung menerobos masuk tanpa penghalang, membuat seisi rumah cerocoh dan digenangi banjir. Dalam kondisi dingin dan basah, Taryono hanya bisa pasrah memeluk lututnya di sudut ruangan yang tersisa.
Penderitaannya kian lengkap dengan penyakit asma akut yang bersarang di tubuhnya. Untuk sekadar berjalan beberapa meter saja, dadanya langsung terasa pegah dan sesak.
Penyakit inilah yang merenggut kemampuannya untuk mencari nafkah. Jangankan memikul beban, melakukan pekerjaan rumah yang ringan saja sering kali membuatnya kehabisan napas.
Untuk menyambung hidup dari hari ke hari, pria paruh baya ini hanya bisa menggantungkan nasibnya pada belas kasihan orang lain. Beruntung, kepedulian warga Desa Krakal masih kental. Kebutuhan makan dan minum sehari-hari Taryono ditopang oleh uluran tangan para tetangga yang iba, serta bantuan berkala dari pihak pemerintah desa setempat.
Namun, bantuan pangan tentu belum cukup untuk memperbaiki rumahnya yang nyaris roboh atau menyembuhkan penyakitnya.
"Rumah ini sudah agak miring, kayu-kayunya sudah pada patah. Kalau hujan deras, air langsung cerocoh ke dalam, tidak jarang sampai banjir semata kaki. Saya cuma bisa sambil berdoa, 'Ya Allah, jangan ambruk dulu rumahnya, saya tidak punya tempat berteduh.
Mau memperbaiki rumah, uang dari mana? Buat bernapas saja dada saya ini rasanya pegah dan sesak sekali, boro-boro buat kerja berat. Jalan sebentar saja napas saya pegah.
Kisah Pak Taryono di pelosok Kebumen ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bagi kita semua tentang pentingnya rasa kepedulian sosial.
Pak Taryono kini hanya bisa menunggu dan berharap, kiranya ada dermawan atau instansi terkait yang tergetar hatinya untuk mengulurkan bantuan bedah rumah serta memberikan akses pengobatan yang layak, demi memberikan sedikit kedamaian di hidupnya.(*)








