Semangat Baru dari Banjareja: Digitalisasi Layanan dan Kemandirian Pangan


Bupati Lilis Nuryani saat melakukan panen perdana ikan nila berbasis teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) di Desa Banjareja Kuwarasan.(ft ist) 
KUWARASAN, (seputarkebumen.com)-Transformasi desa di Kabupaten Kebumen kian nyata. Tak hanya menghadirkan layanan publik berbasis digital, desa juga mulai menunjukkan taringnya dalam sektor ketahanan pangan.

Hal ini terlihat saat Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, mengunjungi Desa Banjareja, Kecamatan Kuwarasan, Selasa (5/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Bupati meresmikan layanan Samsat Budiman (BUMDes Digital Mandiri) sekaligus melakukan panen perdana ikan nila berbasis teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS).

Peresmian Samsat Budiman disambut antusias warga. Kini, masyarakat tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk membayar pajak kendaraan. Cukup datang ke desa, prosesnya lebih cepat, mudah, dan efisien.

“Sekarang warga tidak perlu ke kota. Bayar pajak tahunan bisa dilakukan di sini, lebih dekat dan praktis,” ujar Bupati Lilis.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyerahkan apresiasi dari Jasa Raharja kepada Ketua RT setempat sebagai bentuk penghargaan atas tertib administrasi warganya.

Saat ini, layanan serupa telah hadir di 11 titik di Kebumen melalui kolaborasi dengan KDMP dan sekitar 60 BUMDes. Langkah ini menjadi solusi nyata bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat layanan.

Tak berhenti di sektor layanan publik, Desa Banjareja juga menunjukkan keberhasilan dalam penguatan ekonomi desa melalui BUMDes “Sri Manunggal”.

Lewat program ketahanan pangan, desa ini sukses mengembangkan budidaya ikan nila menggunakan sistem RAS—teknologi modern yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Kepala Desa Banjareja, Eko Yulianto, mengungkapkan rasa syukur atas panen perdana tersebut.

“Alhamdulillah, panen pertama ikan nila sistem RAS berjalan lancar. Kehadiran Ibu Bupati menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan usaha ini,” ujarnya.

Dari total tebar 7.200 ekor, tingkat kelangsungan hidup ikan mencapai lebih dari 90 persen atau sekitar 6.000 ekor—angka yang tergolong sangat tinggi.

Dalam waktu pemeliharaan sekitar tiga bulan, panen perdana ini menghasilkan sekitar 1,2 ton ikan nila, yang siap dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga sektor kuliner lokal.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus pusat inovasi berbasis teknologi.(*)