Gejala Cedera Otak Menurun, Kualitas Hidup Pasien Meningkat Selama Pemulihan, Ini Temuan Orasi Ilmiah UNIMUGO


Ns. Putra Agina Widyaswara Suwaryo, M.Kep., Ph.D.(ft dok UNIMUGO)
GOMBONG, (seputarkebumen.com)-Pemulihan pasien setelah mengalami cedera otak traumatik tidak cukup hanya ditandai dengan keberhasilan menjalani perawatan di rumah sakit. Berkurangnya keluhan, meningkatnya kemandirian, serta membaiknya kualitas hidup setelah pasien kembali ke rumah juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Hal tersebut menjadi sorotan dalam orasi ilmiah yang disampaikan Putra Agina Widyaswara Suwaryo pada Wisuda Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO) Periode Oktober 2026. Dalam orasi berjudul “Perubahan Gejala dan Kualitas Hidup selama Pemulihan Pasien setelah Cedera Otak Traumatik”, ia memaparkan perubahan gejala dan kualitas hidup pasien selama tiga bulan masa pemulihan.

Penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi pasien setelah mengalami cedera otak, termasuk pemantauan kondisi dan dukungan yang dibutuhkan ketika mereka mulai kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Cedera otak traumatik dapat menimbulkan berbagai keluhan yang tidak selalu terlihat secara langsung. Pasien bisa mengalami sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, masalah ingatan, hingga perubahan suasana hati.

Dampaknya juga dapat meluas ke kehidupan sosial dan pekerjaan. Aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan bisa terasa lebih sulit, sementara kemandirian dan hubungan dengan keluarga turut terpengaruh.

Karena itu, kepulangan pasien dari rumah sakit belum tentu menandakan seluruh proses pemulihan telah selesai.

Dalam orasinya, Putra mengungkapkan bahwa estimasi global yang dipaparkan dalam materi penelitian menyebutkan sekitar 69 juta kasus cedera otak traumatik terjadi setiap tahun. Sejumlah penelitian mengenai cedera otak ringan juga menunjukkan bahwa sebagian pasien masih mengalami gejala dan disabilitas hingga tiga sampai enam bulan setelah cedera.

Penelitian Melibatkan 64 Pasien

Untuk melihat perubahan kondisi pasien selama pemulihan, penelitian yang dipaparkan tersebut melibatkan analisis terhadap 64 pasien. Sebanyak 32 pasien berada dalam kelompok intervensi yang mendapatkan pendampingan pemulihan terstruktur, sedangkan 32 pasien lainnya berada dalam kelompok pembanding yang menerima perawatan standar.

Pengukuran dilakukan pada tiga tahap, yakni saat awal penelitian, bulan pertama, dan bulan ketiga.

Peneliti menggunakan Rivermead Post-Concussion Symptoms Questionnaire (RPQ) untuk menilai gejala pascacedera, serta Quality of Life after Brain Injury (QOLIBRI) untuk mengukur kualitas hidup pasien.

Dalam pengukuran RPQ, skor yang lebih rendah menunjukkan keluhan yang lebih ringan. Sementara itu, skor QOLIBRI yang lebih tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik.

Hasil pengukuran memperlihatkan adanya perbedaan pola perubahan antara kedua kelompok selama masa pemantauan.

Skor Gejala Turun dari 25,71 Menjadi 10,37

Pada kelompok yang memperoleh pendampingan pemulihan terstruktur, rata-rata skor gejala tercatat sebesar 25,71 pada awal penelitian. Angka tersebut turun menjadi 21,34 pada bulan pertama dan kembali menurun menjadi 10,37 pada bulan ketiga.

Sementara itu, pada kelompok pembanding, skor gejala relatif tidak banyak berubah, dari 22,53 pada awal penelitian menjadi 22,46 pada bulan ketiga.

Secara deskriptif, data tersebut menunjukkan penurunan keluhan yang lebih besar pada kelompok yang menerima pendampingan terstruktur dibandingkan kelompok pembanding.

Meski demikian, hasil berupa rata-rata kelompok tidak berarti seluruh pasien mengalami perubahan dengan pola yang sama. Interpretasi mengenai efektivitas intervensi tetap perlu mempertimbangkan rancangan penelitian dan hasil analisis statistik secara keseluruhan.

Temuan ini sekaligus menyoroti pentingnya pemantauan berkala agar perkembangan kondisi pasien dapat diketahui secara lebih menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu kali pemeriksaan.

Kualitas Hidup Pasien Ikut Meningkat

Perubahan juga terlihat pada pengukuran kualitas hidup pasien.

Pada kelompok intervensi, rata-rata skor QOLIBRI meningkat dari 116,12 pada awal penelitian menjadi 124,46 pada bulan pertama. Pada bulan ketiga, skor tersebut kembali naik menjadi 133,75.

Adapun kelompok pembanding menunjukkan perubahan yang lebih kecil, dengan skor kualitas hidup meningkat dari 120,71 pada awal penelitian menjadi 121,81 pada bulan ketiga.

Data tersebut memperlihatkan bahwa selama periode pengamatan, kelompok yang mendapatkan pendampingan terstruktur menunjukkan peningkatan skor kualitas hidup yang lebih besar secara deskriptif.

Menurut pemaparan dalam orasi tersebut, penilaian pemulihan pasien perlu mencakup lebih dari sekadar berkurangnya keluhan fisik. Kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, kemandirian, hubungan sosial, serta penilaian pasien terhadap kehidupannya juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan.

Bagi pasien, kemajuan pemulihan bisa berarti kembali mengurus kebutuhan pribadi, berkomunikasi dengan keluarga, bekerja, atau berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, tujuan pemulihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien agar perkembangan yang dicapai benar-benar memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Pendampingan Berkelanjutan Menjadi Kunci

Putra juga menjelaskan konsep neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk beradaptasi dan mengorganisasi kembali fungsinya. Latihan yang bermakna dan berulang, pendampingan sesuai kebutuhan, serta dukungan keluarga dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Namun, ia menegaskan bahwa neuroplastisitas tidak diukur secara langsung dalam penelitian yang dipaparkan. Konsep tersebut digunakan sebagai kerangka untuk memahami proses pemulihan, bukan sebagai kesimpulan biologis dari perubahan skor gejala dan kualitas hidup.

Dalam konteks pelayanan kesehatan, pemulihan setelah cedera otak traumatik membutuhkan kesinambungan antara perawatan di rumah sakit dan tindak lanjut setelah pasien kembali ke rumah maupun lingkungan masyarakat.

Edukasi sebelum pasien pulang, rencana pemantauan, serta akses terhadap bantuan yang diperlukan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Keluarga juga membutuhkan informasi yang memadai agar dapat mendukung proses pemulihan secara tepat.

Pendekatan tersebut diharapkan membantu pasien menghadapi berbagai tantangan setelah cedera, sekaligus memberikan kesempatan untuk kembali menjalankan peran dalam keluarga dan masyarakat.

Melalui orasi ilmiahnya, Putra mengajak tenaga kesehatan untuk tidak hanya berfokus pada penanganan cedera pada fase akut, tetapi juga memperhatikan perjalanan pemulihan pasien dalam jangka waktu berikutnya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan UNIMUGO agar menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk memahami kebutuhan manusia, bekerja berdasarkan bukti ilmiah, dan menghadirkan pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pemulihan, sebagaimana tergambar dalam penelitian tersebut, merupakan proses yang membutuhkan pemantauan, pendampingan, serta kerja sama antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan.(*)

Penulis : Ns. Putra Agina Widyaswara Suwaryo, M.Kep., Ph.D