![]() |
| Ribuan warga saat memadati kawasan alun-alun Pancasila menyaksikan kemeriahan Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian 2026.(ft ist) |
Mengangkat tema “Nguri-uri Budaya, Nglestarikake Tradisi, Mbangun Kebumen Berbudaya”, perhelatan budaya tahunan ini berlangsung meriah dan terbuka untuk masyarakat. Antusiasme warga terlihat sejak sore hari, bahkan banyak di antaranya rela menunggu berjam-jam demi menyaksikan prosesi kirab dan berebut gunungan yang dipercaya membawa keberkahan.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Wakil Bupati Zaeni Miftah, Sekretaris Daerah Edi Rianto, mantan Bupati Mohammad Yahya Fuad, Ketua DPRD Kebumen Saman Halim Nurrohman, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika, pimpinan DPRD Kebumen, jajaran OPD, budayawan, seniman, tokoh masyarakat, hingga para kepala desa dan lurah.
Prosesi diawali dengan penyerahan benda pusaka berupa tombak sebagai simbol penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya daerah. Selanjutnya, kirab budaya mengelilingi Alun-alun Pancasila menjadi tontonan yang menyedot perhatian ribuan pasang mata.
Puncak acara ditandai dengan arak-arakan tujuh gunungan yang terdiri atas gunungan lanang dan gunungan wadon, lima gunungan pengiring, serta sejumlah tenong atau ambeng berisi hasil bumi dan aneka pangan tradisional. Gunungan-gunungan tersebut tersusun dari sayuran, buah-buahan, hingga palawija yang melambangkan kemakmuran dan ungkapan syukur masyarakat atas rezeki yang diperoleh selama setahun terakhir.
Namun sebelum prosesi doa lintas agama selesai dilaksanakan, warga yang telah menunggu sejak awal langsung bergerak mendekati gunungan. Dalam hitungan menit, hasil bumi yang menghiasi gunungan habis diperebutkan masyarakat. Tradisi ngalap berkah yang telah melekat dalam budaya masyarakat menjadi salah satu alasan tingginya antusiasme warga untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut.
Sorak-sorai dan kegembiraan masyarakat semakin terasa ketika rangkaian acara dilanjutkan dengan tradisi iber-iber unggas ke alam bebas, pemecahan kendi berisi uang logam, hingga rebutan tenong yang dipenuhi jajanan tradisional khas daerah.
Dalam sambutannya, Lilis Nuryani mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sekaligus Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 Ba'. Menurutnya, Merti Jagad bukan sekadar perayaan budaya, melainkan momentum untuk memperkuat rasa syukur, menjaga harmoni dengan alam, dan mempererat persatuan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Semangat gotong royong yang diwariskan para leluhur harus terus dijaga sebagai modal utama mewujudkan Kebumen yang maju dan sejahtera.
Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kebumen Basikun Mualim atau yang dikenal sebagai Petruk Kabumian menjelaskan bahwa Merti Jagad merupakan tradisi yang berisi refleksi rasa syukur atas hasil panen dan keberhasilan usaha selama setahun, sekaligus doa bersama untuk menyongsong tahun yang baru dengan harapan yang lebih baik.
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya Kebumen yang memiliki akar sejarah dan kearifan lokal yang khas.
“Tradisi ini sebenarnya sudah rutin digelar setiap tahun. Hanya dalam dua tahun terakhir mulai lebih dikenal luas karena dipusatkan di Pendopo Kabumian dan Alun-alun Kebumen,” ujarnya.
Kemeriahan Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian 2026 kembali membuktikan bahwa tradisi budaya masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam semangat syukur dan persaudaraan.(*)







