![]() |
| Bupati Kebumen Lilis Nuryani bersama kepala BGN Dadan Hindayani saat mengunjungi pasar Temenggungan Kebumen.(ft ist) |
Peluncuran program tersebut dirangkaikan dengan peresmian Studio Live Shop Pasar Tumenggungan, sebuah terobosan digital untuk mengangkat daya saing pasar tradisional di tengah gempuran belanja daring.
Program MBG Nglarisi Pasar dirancang untuk memastikan kebutuhan dapur MBG dipenuhi dari komoditas pertanian lokal, sehingga hasil panen petani dan dagangan pedagang pasar terserap secara maksimal.
Sebagai simbol modernisasi pasar rakyat, dilakukan pula penandatanganan prasasti Studio Online Shop Pasar. Inovasi ini diharapkan menjadi jembatan antara pasar tradisional dan konsumen digital.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan, gagasan program tersebut lahir dari keluhan para pedagang yang merasakan penurunan omzet akibat perubahan pola belanja masyarakat.
“Melalui program SELARAS atau Sengkuyung Nglarisi Pasar, kami mendorong dapur-dapur MBG agar memprioritaskan belanja dari pasar rakyat dan petani lokal,” ujar Bupati Lilis.
Ia menegaskan, Kebumen memiliki banyak komoditas unggulan yang siap diserap program MBG, mulai dari sayuran hingga buah-buahan lokal.
“Kami dorong penggunaan kacang panjang, terong, mentimun, semangka, hingga kelengkeng. Meski secara geografis Kebumen belum cocok untuk brokoli atau wortel, MBG diharapkan mampu menghidupkan kembali pasar dan memantik semangat petani untuk terus bertani,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa Kebumen termasuk daerah tercepat dalam menyiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari target 190 SPPG, sebanyak 142 unit telah beroperasi dan 48 unit lainnya dalam proses pembangunan.
“Satu SPPG mengelola anggaran sekitar Rp10–11 miliar per tahun. Artinya, hampir Rp2 triliun dana BGN akan berputar di Kebumen pada 2026. Jika 70 persen digunakan untuk bahan baku, maka dampaknya bagi ekonomi lokal akan sangat luar biasa,” jelas Dadan.
Ia menambahkan, satu dapur MBG yang memproduksi 3.000 porsi per hari membutuhkan sedikitnya 3.000 butir telur dan 15 tandan pisang dalam sekali masak.
“Secara nasional, perputaran uang MBG mencapai Rp855 miliar per hari. Potensi ini harus dikelola dengan baik agar benar-benar menghidupkan koperasi, UMKM, dan Bumdes,” tegasnya.
Omzet Naik, Petani dan Pedagang Tersenyum
Dampak program ini mulai dirasakan langsung oleh pedagang dan petani. Susi, pedagang sayur di Pasar Tumenggungan, mengaku omzetnya melonjak sejak menjadi pemasok dapur MBG.
“Dari satu yayasan saja, omzet saya bisa sampai Rp7 juta per minggu,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan petani. Ketua Kelompok Tani Tani Mulyo, Moch. Imam Mursyid, menyebut pendapatan petani meningkat hingga 20 persen karena kini bisa memasok langsung ke SPPG tanpa banyak perantara.
“Dulu sayuran sering tidak laku dan harganya jatuh. Sekarang harga stabil dan kami mendapat keuntungan yang layak,” katanya.
Kepala Disperindag KUKM Kebumen, Haryono Wahyudi, mengapresiasi keberhasilan program ini. Ia menyebut, sekitar 80 persen bahan baku MBG di Kebumen sudah berasal dari produk lokal.
Adapun komoditas yang telah dibudidayakan meliputi jagung manis, kangkung, kacang panjang, selada hidroponik, caisim, cabai, terong, timun, tomat, labu siam, buncis, kelengkeng, jambu kristal, hingga pisang.
Ke depan, Dinas Pertanian dan Pangan Kebumen akan memprioritaskan pengembangan labu siam, buncis, selada, kelengkeng, dan pisang cavendish untuk mendukung keberlanjutan MBG.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan pemberian MBG di SMPN 5 Kebumen guna memastikan standar gizi terpenuhi, serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Gedung PLUT Kebumen yang menyediakan 200 paket sembako seharga Rp50.000.
Kunjungan ditutup dengan peninjauan SPPG di Jalan Ahmad Yani. Acara tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dr. Faiz Alaudien Reza Mardhika, mantan Bupati Kebumen H. Mohammad Yahya Fuad, serta pimpinan OPD.(*)












