![]() |
| Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Achiruddin saat mengecek pembangunan Markas Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 440/Satria Jaka Sangkrip di Kecamatan Buayan.(ft ist) |
Kehadiran orang nomor satu di Kodam IV ini bukan tanpa alasan. Buayan dipilih sebagai salah satu titik strategis dalam program besar pembentukan batalyon baru di bawah naungan Kodam IV/Diponegoro.
"Ini bagian dari target kami membentuk 40 batalyon di wilayah Jateng dan DIY. Saat ini sudah 29 batalyon yang terbentuk," ungkap Mayjen Achiruddin di sela peninjauan.
Visi besarnya sederhana: setiap kabupaten nantinya punya satu Batalyon Teritorial Pembangunan. Dengan begitu, pertahanan wilayah bisa lebih kuat dan merata.
Yonif TP 440/SJS tidak hanya disiapkan sebagai pasukan tempur. Sesuai namanya, batalyon ini juga dibekali kemampuan pembinaan teritorial.
"Secara fungsi utama ini tetap batalyon infanteri tempur. Siap digerakkan untuk operasi militer jika dibutuhkan. Tapi di sisi lain, prajuritnya juga dilatih agar bisa membantu masyarakat dan mengawal program pembangunan daerah," jelas Pangdam.
Dampak ke masyarakat Buayan diprediksi langsung terasa. Dengan sekitar 500 prajurit yang akan menempati markas ini, roda ekonomi diproyeksikan berputar lebih cepat.
Ambil contoh paling kecil. Gaji seorang prajurit minimal Rp6 juta. Kalau setengahnya, Rp3 juta, dibelanjakan di sekitar markas untuk makan, laundry, jahit, dan kebutuhan lain, maka dalam sebulan akan ada perputaran uang sekitar Rp1,5 miliar.
"Insyaallah ini akan menghidupkan UMKM sekitar. Warung makan, konveksi, jasa laundry, semua punya peluang," tambah Achiruddin.
Secara organisasi, Yonif TP 440/SJS akan menjadi tulang punggung pengamanan tingkat kabupaten. Wilayah tanggung jawabnya mencakup stabilitas keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan adanya pembangunan di Banyumudal, Kodam IV/Diponegoro berharap keberadaan batalyon ini bukan hanya memperkuat pertahanan, tapi juga jadi penggerak ekonomi baru bagi Kebumen bagian selatan.(*)








