Jejak Perjuangan Pendiri NU Kebumen Dikenang, Bupati Lilis Ajak Masyarakat Meneladani Keteguhan KH Ahmad Nashoha


Peringatan Haul ke-62 Al-Maghfurlah KH Ahmad Nashoha di Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso, Desa Bumirejo, Kebumen.(ft ist) 
KEBUMEN, (seputarkebumen.com)- Ribuan jamaah, santri, alumni, dan tokoh masyarakat memadati kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso, Desa Bumirejo, Kebumen, dalam peringatan Haul ke-62 Al-Maghfurlah KH Ahmad Nashoha yang berlangsung khidmat pada Rabu (10/6/2026).

Momentum penuh makna tersebut sekaligus menjadi ajang Silaturahmi Akbar Alumni dan haul para masyayikh yang telah berjasa membesarkan pesantren, yakni Haul ke-60 KH Fathurrohman, Haul ke-50 KH Sulton, Haul ke-39 KH Mahfudz Arief, serta Haul ke-11 Nyai Fatmah.

Acara dihadiri langsung oleh Bupati Kebumen Lilis Nuryani, jajaran Pemerintah Kabupaten Kebumen, perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso KH Muntaha Fathurrohman atau yang akrab disapa Gus Taha, serta Rais Syuriyah PCNU Purworejo Romo KH R. Dawud Masykuri yang menyampaikan mauidzah hasanah.

Berawal dari Masjid Tua, Tumbuh Menjadi Pesantren Berpengaruh

Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso memiliki akar sejarah panjang yang bermula dari berdirinya Masjid Jami’ Salafiyah pada abad ke-18. Masjid tersebut menjadi pusat syiar Islam yang dimakmurkan oleh KH Muhammad Isma’il.

Tongkat estafet perjuangan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Ahmad Nasikhah yang lebih dikenal masyarakat dengan nama KH Ahmad Nashoha. Sosok ulama kharismatik ini lahir sekitar tahun 1894 dan dikenal sebagai santri pengelana yang menimba ilmu di sejumlah pesantren besar Nusantara.

Perjalanan keilmuannya membawanya belajar langsung di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah asuhan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Tidak berhenti di sana, ia juga memperdalam ilmu agama di Kota Makkah selama empat tahun sebelum akhirnya kembali ke tanah air pada tahun 1922 dan mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso.

Ulama Pejuang yang Turut Mengangkat Senjata

Nama KH Ahmad Nashoha tidak hanya tercatat sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga pejuang bangsa. Dalam sejumlah catatan sejarah, beliau terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam Pertempuran Ambarawa.

Keberanian dan semangat juangnya menjadi inspirasi bagi masyarakat saat itu. Bahkan, beliau disebut berhasil membantu membebaskan sejumlah kiai yang ditawan oleh pasukan kolonial Belanda.

Selain berjuang di medan perang, kiprah KH Ahmad Nashoha juga sangat besar dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Kebumen. Atas amanah langsung dari KH Hasyim Asy’ari, beliau menjadi tokoh sentral dalam pendirian NU Kebumen pada tahun 1936.

Beliau kemudian dipercaya menjadi Rais Syuriyah pertama PCNU Kebumen periode 1936–1942. Menariknya, sekretariat pertama NU Kebumen kala itu berada di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso.

Sejarah juga mencatat bahwa Kebumen pernah mendapat kunjungan langsung dari KH Hasyim Asy’ari bersama KH Wahid Hasyim dan Gus Dur kecil. Kehadiran para tokoh besar tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang berkembangnya NU hingga Kebumen dikenal sebagai salah satu basis kuat warga nahdliyin di wilayah selatan Jawa Tengah.

Bupati Lilis: Warisan Ulama Harus Terus Dijaga

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan penghormatan dan apresiasi atas jasa besar KH Ahmad Nashoha serta para masyayikh Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan moral dan spiritual masyarakat.

Menurutnya, perjuangan para ulama tidak hanya meninggalkan warisan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai akhlak, persatuan, dan semangat pengabdian yang masih relevan hingga saat ini.

“Simbah KH Ahmad Nashoha telah meletakkan fondasi ilmu, akhlak, dan perjuangan yang manfaatnya masih dirasakan masyarakat hingga sekarang. Kemajuan daerah bukan hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kuatnya karakter, spiritualitas, dan akhlak masyarakatnya,” ujar Bupati.

Bupati berharap peringatan haul dapat menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus mengingatkan generasi muda untuk terus meneladani keikhlasan, keteguhan, dan semangat perjuangan para ulama pendahulu.

KH Ahmad Nashoha wafat pada tahun 1966 dalam usia 70 tahun. Meski telah berpulang lebih dari enam dekade lalu, jejak perjuangan dan pengabdiannya tetap hidup dan terus dilanjutkan oleh generasi penerus, termasuk sang cucu, KH Muntaha Fathurrohman yang kini mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso.

Peringatan haul ini menjadi bukti bahwa jasa para ulama tidak pernah lekang oleh waktu. Semangat perjuangan yang mereka wariskan terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat dan masyarakat Kebumen hingga hari ini.(*)