Kepemimpinan Gen Z Dinilai Jadi Kunci Membangun Budaya Bisnis yang Etis dan Berkelanjutan


Rizkania Rifta Perdani, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa Kebumen. (ft ist)

KEBUMEN, (seputarkebumen.com)- Generasi Z dinilai membawa paradigma baru dalam dunia kepemimpinan modern, khususnya dalam membangun budaya bisnis yang lebih etis, inklusif, dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam kajian ilmiah bertajuk “Dari Integritas ke Inovasi: Model Kepemimpinan Gen Z dalam Membangun Budaya Bisnis Beretika” yang disusun oleh mahasiswa Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa, Rizkania Rifta Perdani.


Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa perkembangan dunia bisnis yang semakin dinamis menuntut hadirnya model kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target organisasi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas dan etika bisnis.


Generasi Z yang tumbuh di era digital disebut memiliki karakteristik berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka dinilai lebih terbuka terhadap teknologi, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial seperti kesehatan mental, lingkungan, kesetaraan gender, hingga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work life balance).


“Gen Z tidak hanya membawa semangat inovasi, tetapi juga nilai-nilai transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial dalam proses pengambilan keputusan organisasi,” tulis Rizkania dalam penelitiannya.


Dalam perspektif manajemen modern, kepemimpinan berbasis integritas dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan budaya organisasi yang sehat. Integritas tidak hanya dimaknai sebagai kejujuran pribadi, tetapi juga komitmen terhadap tata kelola yang transparan dan bertanggung jawab kepada seluruh pemangku kepentingan.


Kajian tersebut juga menyoroti gaya kepemimpinan Gen Z yang lebih kolaboratif dan partisipatif. Pemimpin dari generasi ini cenderung membuka ruang dialog serta melibatkan tim dalam pengambilan keputusan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang demokratis dan inklusif.


Selain itu, kemampuan Gen Z dalam memanfaatkan teknologi digital dinilai menjadi kekuatan utama dalam mendorong inovasi organisasi. Namun, inovasi yang dikembangkan tidak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan perusahaan, melainkan juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan dampak sosial.


“Keberhasilan perusahaan tidak lagi hanya diukur dari sisi profit, tetapi juga dari kontribusinya terhadap masyarakat dan lingkungan,” lanjutnya.


Dalam kesimpulannya, penelitian tersebut menegaskan bahwa integritas dan inovasi merupakan dua elemen yang saling berkaitan dalam model kepemimpinan Gen Z. Integritas menjadi landasan moral agar setiap inovasi tetap berada dalam koridor etika bisnis dan tidak mengabaikan tanggung jawab sosial organisasi.


Melalui pendekatan kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis teknologi, Generasi Z dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat praktik good corporate governance sekaligus meningkatkan daya saing organisasi di tengah transformasi bisnis global.


Penelitian itu juga mendorong organisasi untuk memberikan ruang lebih luas bagi lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya fokus pada pencapaian finansial, tetapi juga pada penciptaan nilai bersama bagi seluruh pemangku kepentingan.(*)

Penulis : Rizkania Rifta Perdani, Mahasiswa UPB Kebumen.