![]() |
| Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Kebumen saat menggelar ziarah di makam Istri Kolopaking III.(ft ist) |
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kebumen Fitria Handini mengatakan, kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya meneladani semangat juang dan pengabdian para tokoh terdahulu, khususnya perempuan.
“Kami diajarkan Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Hari ini sudah kami tunaikan, sebagimana perintah DPP PDI Perjuangan,” beber Handini setelah ziarah, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, sosok Istri Kolopaking III atau yang kerap disebut Tan Peng Nio merupakan representasi perempuan tangguh. Kehadirannya turut memberikan kontribusi dalam perjalanan panjang sejarah daerah. Oleh karena itu, pada momentum Hari Kartini dinilai tepat untuk merefleksikan kembali peran perempuan dalam pembangunan bangsa.
“Kedatangan kami selain mendoakan, tapi juga napak tilas. Kami refleksi di depan pusara bagaimana dulu beliau gigih berjuang,” ujar dia Handini yang juga Wakil Ketua DPRD Kebumen.
Dia berharap, melalui kegiatan ziarah ini para kader PDI Perjuangan Kebumen bersama masyarakat dapat terus menghidupkan semangat perjuangan, serta mengamalkan nilai luhur yang diwariskan para tokoh pendahulu dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari kisah perjalanan hidup Tan Peng Nio ini perempuan tangguh. Dan patut menjadi contoh perempuan era modern,” katanya.
Ziarah yang diikuti segenap jajaran pengurus dan kader PDIP Kebumen ini berlangsung khidmat. Rangkaian kegiatan diawali doa bersama, dilanjutkan tabur bunga di pusara tokoh perempuan yang dikenal memiliki peran penting dalam sejarah Kebumen tersebut. Kegiatan di makam yang berada di dekat jalan menuju Pemandian Air Panas (PAP) Krakal ini dipandu langsung praktisi sejarah, KRAP Arif Priyantoro.
Dalam beberapa literasi menyebut Raden Ayu Tan Peng Nio merupakan seorang pendekar perempuan dari Negeri Tiongkok. Dia adalah anak seorang Jenderal Tan Wan Swee, seorang jenderal dari Dinasti Qing yang sempat berkuasa. Dia kemudian pergi dari negara asal karena situasi pemerintahan kala itu sedang tidak kondusif. Dari pelarian ini sampailah hingga Kebumen.
Singkat kisah, pada peristiwa Geger Pecinan yang meluas ke berbagai wilayah, Tan Peng Nio ikut melakukan perlawanan terhadap VOC Belanda. Perempuan yang dikenal jago beladiri ini ikut bergabung dengan 200 pasukan besutan Kolopaking III. Wanita tangguh itu bertempur di garis depan dalam perang gerilya melawan penjajah. Dalam perjalanannya, Tan Peng Nio akhirnya diperistri Kolopaking III.(*)







