Pengrajin Genteng Kebumen Sambut Antusias Gentengisasi Presiden Prabowo


Siti Mubarokah (38), pengrajin genteng asal Kecamatan Sruweng.(ft ist) 
KEBUMEN, (seputarkebumen.com)- Angin segar berembus bagi para pengrajin genteng tradisional. Program gentengisasi yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto disambut penuh optimisme oleh pelaku usaha genteng di daerah, termasuk pengrajin asal Kabupaten Kebumen yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sentra genteng berkualitas.

Siti Mubarokah (38), pengrajin genteng asal Kecamatan Sruweng, Kebumen, mengaku antusias menyambut rencana tersebut. Menurutnya, program gentengisasi menjadi harapan baru bagi keberlangsungan industri genteng rakyat yang selama ini bertumpu pada kekuatan tradisi dan kualitas produk.

Presiden Prabowo sebelumnya menyampaikan rencana penggalakkan program gentengisasi dalam rapat koordinasi bersama kepala daerah se-Indonesia di Jakarta. Kebijakan ini dinilai membuka peluang besar bagi daerah-daerah penghasil genteng, termasuk Kebumen yang sejak lama dikenal lewat produk Genteng Sokka.

Pantauan di kawasan produksi UD Genteng Sokka Mubarokah di Kecamatan Sruweng menunjukkan denyut aktivitas yang tak pernah sepi. Para pekerja tampak sibuk memasukkan genteng setengah jadi ke dalam tobong, tungku pembakaran tradisional yang menjadi jantung produksi genteng. Di lokasi lain, pekerja terlihat mengeluarkan genteng yang telah rampung dibakar, berjejer rapi siap dipasarkan.

Siti mengungkapkan, dirinya telah menekuni usaha produksi genteng sejak 2012. Berawal dari mengikuti jejak keluarga, ia kemudian memberanikan diri mengembangkan usaha secara mandiri hingga mampu bertahan dan berkembang sampai saat ini.

Menurutnya, Genteng Sokka produksi Kebumen memang memiliki reputasi kuat sejak dulu. Selain tahan lama, genteng ini dikenal kokoh dan mampu menahan beban berat.

“Kualitasnya memang Genteng Sokka itu kuat, Mas. Tahan injak, terus kualitasnya memang benar-benar bagus,” ujar Siti, Kamis (5/2/2026).

Saat ini, Siti mengelola 15 lokasi produksi genteng yang tersebar di sejumlah wilayah di Kebumen. Setiap lokasi mampu memproduksi sekitar 1.000 keping genteng per hari. Namun demikian, proses produksi masih sangat bergantung pada kondisi cuaca karena genteng yang baru dicetak harus dijemur di bawah sinar matahari sebelum dibakar.

Menanggapi rencana gentengisasi, Siti menyatakan kesiapan penuh untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar. Ia menjelaskan, satu tobong mampu menampung lebih dari 25 ribu keping genteng dalam sekali proses pembakaran yang berlangsung selama 24 jam nonstop dan dilakukan selama empat hari.

“Jadi semakin semangat untuk memenuhi permintaan-permintaan yang akan datang. Tempat pembakaran kita juga tidak hanya satu, ada empat tobong,” tambahnya.

Produk genteng buatan Siti tidak hanya dipasarkan di Kebumen, tetapi juga telah merambah wilayah Yogyakarta dan Purworejo. Seiring meningkatnya biaya produksi, harga genteng pun mengalami penyesuaian. Ia memproduksi tiga jenis genteng, yakni plentong, magas, dan kodok.

“Harganya dulu plentong Rp1.300 per pcs, magas Rp1.400. Sekarang sudah naik, plentong jadi Rp1.800 dan magas Rp1.900,” pungkas Siti.

Program gentengisasi pun diharapkan tak hanya memperkuat sektor perumahan nasional, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat, khususnya bagi pengrajin genteng tradisional yang selama ini setia menjaga kualitas warisan lokal.(*)