Tak Mau Lahan Cadas Menganggur, Petani di Alian Sulap 1.000 Ubin Jadi Kebun Jenitri dan Cabai


Rizal Kusnadi Petani Jenitri asal Desa Karangkembang Kecamatan Alian.(ft ist) 
KEBUMEN, (seputarkebumen.com)- Lahan perbukitan yang selama ini dianggap kurang produktif karena kondisi tanahnya cadas dan tandus ternyata masih bisa memberikan harapan bagi petani. Hal itu dibuktikan Rizal Kusnadi (40), petani asal Dukuh Jelarang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen.

Dengan bermodal semangat dan kemauan untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak digarap, Rizal mengubah sekitar 1.000 ubin lahan perbukitan menjadi area pertanian. Ia menanam sekitar 500 pohon jenitri serta ribuan batang tanaman cabai.

Upaya tersebut dilakukan karena Rizal tidak ingin lahan yang berada di kawasan perbukitan tersebut dibiarkan begitu saja.

Menurut Rizal, kondisi tanah yang keras dan tandus bukan alasan untuk menyerah. Justru dari keterbatasan itu, ia mencoba mencari jenis tanaman yang dinilai masih memungkinkan dikembangkan.

“Tanahnya memang cadas dan tandus, sebelumnya tidak dimanfaatkan. Saya berinisiatif mencoba menanami jenitri dan cabai. Luasnya sekitar 1.000 ubin,” ujar Rizal.

Namun, mengelola lahan perbukitan bukan perkara mudah. Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi adalah ketersediaan air, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Rizal mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi tanaman yang sedang dikembangkan. Minimnya sumber air membuat dirinya harus berupaya ekstra agar tanaman tetap bertahan hidup.

“Kalau kendalanya paling utama air. Di lahan perbukitan memang sulit mendapatkan air, apalagi sekarang musim kemarau,” katanya.

Akibat keterbatasan air tersebut, sebagian tanaman jenitri yang ditanam Rizal tidak mampu bertahan. Beberapa pohon bahkan mengalami kematian karena kekurangan air.

Ia pun berharap ada perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Kebumen terhadap petani yang berusaha memanfaatkan lahan-lahan marginal seperti dirinya.

Rizal berharap bantuan maupun dukungan pemerintah dapat diberikan, terutama dalam penyediaan pupuk dan sarana pompa air. Menurutnya, keberadaan pompa air akan sangat membantu petani dalam menjaga tanaman ketika musim kemarau.

“Yang kami sayangkan belum ada perhatian dari pemerintah, terutama untuk pupuk dan pompa air. Saat musim kemarau seperti sekarang, banyak tanaman jenitri yang mati karena kekurangan air,” ungkapnya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Rizal mengaku tidak ingin berhenti mengembangkan lahan tersebut. Ia optimistis tanah yang selama ini dianggap kurang produktif sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan tekun dan tepat.

Keyakinan itu bukan tanpa pengalaman. Sebelumnya, Rizal telah membuktikan bahwa lahan cadas di kawasan perbukitan tersebut mampu menghasilkan komoditas pertanian yang memberikan keuntungan.

Beberapa waktu lalu, ia berhasil membudidayakan tanaman semangka di lahan tersebut. Hasil panen yang diperoleh cukup memuaskan dan menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus mencoba mengembangkan pertanian di lahan yang sama.

“Sudah pernah saya buktikan. Tanah cadas seperti ini ternyata bisa menghasilkan dan bisa menjadi cuan. Beberapa waktu lalu saya menanam semangka dan hasil panennya cukup memuaskan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut membuat Rizal semakin yakin bahwa lahan perbukitan yang selama ini terlihat tandus masih dapat dimanfaatkan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Kini, ia berharap budidaya jenitri dan cabai yang tengah dikembangkan dapat berjalan lebih baik. Selain menghasilkan pendapatan bagi keluarganya, ia ingin apa yang dilakukannya bisa menjadi contoh bahwa lahan yang kurang produktif sekalipun dapat diolah menjadi lahan pertanian bernilai ekonomi.

Rizal juga berharap Pemerintah Kabupaten Kebumen memberikan perhatian kepada para petani jenitri, khususnya mereka yang mengembangkan tanaman di wilayah perbukitan dengan berbagai keterbatasan.

“Harapan saya pemerintah kabupaten bisa lebih peduli kepada petani jenitri. Kami sebenarnya mau mengembangkan, tetapi kendalanya banyak, terutama air dan kebutuhan pupuk. Kalau ada dukungan, tentu akan lebih mudah bagi kami untuk mengembangkan usaha ini,” pungkasnya.(*)