Satu Dekade Berjuang Melawan Tumor, Keluarga Wakidi Rasakan Manfaat Besar Program JKN


Tim JKN saat mengunjungi Nunuk Purwaningsih saat mendampingi suaminya, Wakidi di RS Budi Sehat Purworejo.(ft ist) 
PURWOREJO, (seputarkebumen.com)- Rasa syukur tak henti dipanjatkan oleh Nunuk Purwaningsih saat mendampingi suaminya, Wakidi, menjalani perawatan medis di RS Budi Sehat Purworejo. Selama bertahun-tahun berjuang melawan sakit, kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi tumpuan utama yang meringankan beban finansial maupun mental keluarganya.

Pengalaman tersebut diungkapkan Nunuk saat disapa oleh petugas BPJS Satu (BPJS Siap Membantu) dalam kegiatan customer visit peserta di RS Budi Sehat Purworejo. Ia mengaku puas dengan seluruh tahapan pelayanan yang dialami suaminya, mulai dari pendaftaran administrasi, fasilitasi kamar rawat inap, hingga penanganan dari dokter dan perawat.

“Pelayanannya memuaskan. Dari administrasi, mendapatkan kamar, sampai pelayanan petugas, semuanya tidak ada kendala,” ujar Nunuk.

Perjalanan Pengobatan Panjang Sejak 2016

Rumah sakit bukan lagi tempat yang asing bagi keluarga ini. Perjalanan medis Wakidi sudah dimulai sejak sekitar tahun 2016. Selama kurun waktu tersebut, ia telah berganti-ganti fasilitas kesehatan sesuai rujukan medis, mulai dari RS Budi Sehat, RSUD RAA Tjokronegoro, RSUD Dr. Tjitrowardojo, hingga RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Dalam proses pemeriksaan marathon tersebut, Wakidi sempat didiagnosis mengalami efusi pleura sinistra (penumpukan cairan pada rongga paru kiri). Penelusuran medis lebih mendalam kemudian menemukan adanya tumor yang menjadi penyebab utama kondisi tersebut, sehingga Wakidi harus menjalani serangkaian tindakan medis intensif, termasuk terapi lanjutan.

Bebas Biaya Berkat Kepesertaan PBI JKN

Pengobatan jangka panjang seperti kemoterapi dan konsultasi spesialis umumnya menelan biaya yang sangat besar. Namun, status kepesertaan Wakidi sebagai penerima bantuan iuran (PBI) JKN membuat seluruh rangkaian tindakan medis tersebut dapat diakses tanpa mengeluarkan biaya mandiri.

“Semua gratis. Tidak ada kendala. Saya sangat terbantu dengan adanya BPJS. Saya sampai menangis, karena dari awal merasa terbantu. Suami saya bisa mendapatkan pengobatan sampai sembuh. Kalau tidak ada BPJS, saya tidak tahu harus bagaimana. Kemoterapi saja berapa biayanya, saya tidak tahu,” ungkap Nunuk haru.

Jaminan pembiayaan penuh ini membuat Nunuk dapat memfokuskan seluruh perhatiannya pada proses pemulihan sang suami tanpa terbayang-bayang beban utang medis.

Komunikasi Tenaga Kesehatan yang Menenangkan

Selain kepastian biaya, kualitas pelayanan tenaga kesehatan menjadi poin lain yang diapresiasi oleh Nunuk. Penjelasan dokter mengenai diagnosis dan langkah penanganan disampaikan secara rinci dan mudah dipahami, sehingga mengikis kecemasan pihak keluarga.

“Waktu itu dokter menjelaskan dengan sangat detail. Sampai sekarang saya masih ingat istilah-istilah penyakit suami saya. Dokternya menjelaskan dengan baik, jadi saya paham dan tidak perlu khawatir,” jelasnya.

Melalui pengalaman panjang ini, Nunuk berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya memiliki jaminan kesehatan yang aktif. Bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Program JKN terbukti bukan sekadar jaminan pembiayaan, melainkan penopang utama agar pasien dapat berobat secara berkelanjutan hingga tuntas.(*)