![]() |
| Lia Fitriani (45) Perawat RS Emanuel Banjarnegara saat ditemui Tim JKN.(ft ist) |
Lia menyaksikan sendiri bagaimana JKN berhasil mengikis tembok tebal kekhawatiran masyarakat akan mahalnya biaya rumah sakit. Kini, warga tak perlu lagi ragu atau menunda berobat hanya karena dompet yang tipis.
"JKN ini benar-benar penolong, khususnya bagi warga kurang mampu. Di saat biaya medis terus melambung, hadirnya JKN memberikan kepastian perlindungan sehingga siapa pun bisa berobat tanpa dibayang-bayangi beban finansial yang berat," ungkap Lia.
Bagi Lia, kehebatan JKN tak lepas dari roh utamanya: gotong royong. Iuran bulanan yang dibayarkan peserta aktif bukan sekadar 'premi', melainkan uluran tangan nyata untuk menyelamatkan sesama yang sedang kritis.
"Meskipun kita sedang sehat, iuran yang kita bayar secara rutin itu dipakai untuk membiayai pengobatan saudara-saudara kita yang sedang berjuang di ruang perawatan. Prinsip saling menopang inilah yang membuat JKN begitu bernilai," tambahnya.
Menyelamatkan Nyawa Pasien Kronis
Tak cuma melayani di ruang perawatan, Lia juga berinisiatif mengambil peran sebagai edukator. Ia gencar menyadarkan masyarakat tentang krusialnya memiliki jaminan kesehatan aktif, terutama untuk mengantisipasi risiko penyakit kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
"Penyakit kronis butuh kontrol dan obat yang tidak boleh putus. Dulu, banyak pasien terpaksa berhenti berobat karena terkendala biaya, akibatnya kondisi mereka makin memburuk dan memicu komplikasi," jelas Lia. "Sejak ada JKN, pasien penyakit kronis bisa berobat teratur, penyakitnya terkontrol, dan mereka bisa kembali menikmati kualitas hidup yang lebih baik."
Pelopor Layanan Digital 'Pojok JKN'
Komitmen Lia tak berhenti pada urusan medis semata. Ia menjadi salah satu sosok yang giat mengenalkan kepraktisan teknologi lewat aplikasi Mobile JKN sejak awal diluncurkan—momen di mana masyarakat masih asing dengan sistem digital tersebut.
Demi mendekatkan layanan digital ke pasien, Lia dan timnya menginisiasi 'Pojok JKN' langsung di area pelayanan rumah sakit.
"Awalnya penggunanya masih sangat sedikit. Maka kami siapkan petugas khusus di Pojok JKN untuk mendampingi warga—mulai dari mengunduh aplikasi, mendaftar, hingga cara memanfaatkannya," kenang Lia.
Lewat Pojok JKN, warga diajak berpindah ke era digital: tak perlu lagi membawa kartu fisik, mudah mengubah data fasilitas kesehatan (FKTP), hingga mengambil antrean rumah sakit secara online tanpa harus mengantre sejak subuh.
Sebagai garda terdepan di rumah sakit, Lia menegaskan siap terus mendukung keberlanjutan JKN lewat pelayanan profesional dan edukasi yang konsisten.
"Harapan kami sederhana: JKN terus berlanjut dan makin luas manfaatnya, sehingga seluruh masyarakat Indonesia bisa mendapatkan akses kesehatan yang berkualitas, mudah, dan tanpa diskriminasi," tutup Lia.(*)








