![]() |
| Dalang muda asal Kebumen, Haidar Azka saat pentas.(ft ist) |
Menjelang penampilannya, Haidar Azka didampingi sang ayah, Mahdi Fathurahman, bersilaturahmi ke kediaman Darori Wonodipuro di Petanahan pada Senin (1/6/2026). Dalam pertemuan tersebut, Azka meminta doa restu sekaligus dukungan untuk mewakili Kabupaten Kebumen dalam ajang budaya bergengsi tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan generasi muda, Darori menyatakan siap membantu biaya keberangkatan Azka ke Borobudur. Dukungan itu menjadi sangat berarti mengingat tahun ini tidak tersedia anggaran dari Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk mendukung partisipasi Azka dalam kegiatan tersebut.
Darori mengaku bangga melihat masih adanya generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap seni tradisional, khususnya dunia pewayangan.
"Saya bangga masih ada generasi muda yang mencintai dan melestarikan budaya wayang. Azka harus terus semangat belajar, mengasah kemampuan, dan jangan pernah berhenti berkarya. Wayang adalah warisan budaya bangsa yang harus dijaga bersama," ujar Darori.
Ia juga mendorong Azka untuk terus mengembangkan bakatnya dan mendalami ilmu pedalangan secara lebih serius. Bahkan, Darori berharap dapat meluangkan waktu untuk menyaksikan langsung penampilan Azka di Borobudur.
Sementara itu, Haidar Azka mengungkapkan rasa syukur atas perhatian dan dukungan yang diberikan Darori Wonodipuro. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi motivasi tambahan untuk memberikan penampilan terbaik sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Kebumen.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Darori Wonodipuro atas dukungan dan bantuannya. Ini menjadi penyemangat bagi saya untuk tampil sebaik mungkin dan membawa nama baik Kabupaten Kebumen," kata Azka.
Ayah Azka, Mahdi Fathurahman, menuturkan bahwa kecintaan putranya terhadap wayang sudah terlihat sejak masih bayi. Bahkan saat berusia sekitar empat bulan, Azka pernah diajak menonton pertunjukan wayang dan menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa terhadap kesenian tersebut.
Menurut Mahdi, bakat dan kecintaan Azka terhadap wayang juga tidak lepas dari lingkungan keluarga. Kakeknya merupakan seorang pemain karawitan, sehingga sejak usia dini Azka sudah akrab dengan dunia seni tradisional.
"Ketika kelas IV SD, Azka sudah hafal lebih dari 100 nama tokoh wayang. Kemudian pertama kali tampil sebagai dalang saat kelas V SD. Dia juga pernah belajar kepada Mbah Surawan di Gombong untuk memperdalam ilmu pedalangan," ungkap Mahdi.
Kini, Azka yang berusia 14 tahun tercatat sebagai siswa SMP Negeri 2 Karanganyar. Di sela aktivitas sekolah, ia aktif tampil dalam berbagai kegiatan seni dan budaya, baik di Kebumen maupun daerah lainnya.
Mahdi menilai dukungan dari Darori Wonodipuro sangat membantu dan memberikan harapan bagi keluarga mereka.
"Dukungan dari Bapak Darori sangat berarti bagi kami karena tahun ini tidak ada anggaran untuk mendukung keberangkatan Azka. Alhamdulillah ada perhatian sehingga Azka tetap bisa tampil mewakili Kabupaten Kebumen," ujarnya.
Penampilan Azka di Pondok Tingal Borobudur dinilai memiliki nilai prestise tinggi karena lokasi tersebut merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selama ini, panggung tersebut lebih sering diisi oleh dalang-dalang dari kota-kota besar seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang.
Dalam kesempatan itu, Azka dijadwalkan membawakan lakon "Gatotkaca Lahir", kisah pewayangan yang menceritakan kelahiran tokoh ksatria sakti putra Werkudara.
Melalui penampilan tersebut, Azka diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan seni budaya Kebumen kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus membuktikan bahwa generasi muda daerah memiliki kemampuan untuk tampil dan bersaing di panggung budaya tingkat nasional.(*)






