Reses DPRD di Desa Semono, Warga Curhat Jalan Longsor hingga Minimnya Fasilitas PAUD


Kegiatan reses masa persidangan II tahun 2026, Anggota DPRD Kabupaten Purworejo Fraksi PDI Perjuangan, Drs. Subeno, di Desa Semono, Kecamatan Bagelen.(ft ist) 
PURWOREJO, (seputarkebumen.com)- Berbagai persoalan pembangunan mengemuka dalam kegiatan reses masa persidangan II tahun 2026 yang digelar Anggota DPRD Kabupaten Purworejo Fraksi PDI Perjuangan, Drs. Subeno, di Desa Semono, Kecamatan Bagelen. Mulai dari jalan rusak dan longsor, minimnya fasilitas PAUD, hingga kebutuhan sarana olahraga dan kesenian tradisional disampaikan langsung warga dalam forum tersebut.

Kegiatan reses berlangsung hangat dan penuh dialog. Puluhan warga tampak antusias memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi kepada wakil rakyat dari Dapil 2 yang meliputi Kecamatan Bagelen, Purwodadi, dan Ngombol.

Kepala Desa Semono, Marsono, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Drs. Subeno yang turun langsung menemui masyarakat. Ia berharap aspirasi warga dapat diperjuangkan demi kemajuan desa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Subeno yang sudah hadir langsung di Desa Semono untuk mendengar aspirasi masyarakat. Mohon maaf apabila tempat dan fasilitas yang kami sediakan masih sederhana,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Drs. Subeno menjelaskan bahwa reses merupakan kewajiban anggota DPRD untuk turun ke daerah pemilihan guna menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.

“Reses ini menjadi momen silaturahmi sekaligus mendengarkan berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat di dapil,” kata Subeno.

Ia menegaskan, seluruh usulan masyarakat nantinya akan disampaikan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar dapat masuk dalam program pembangunan pemerintah daerah sesuai mekanisme yang berlaku.

Subeno juga mengungkapkan bahwa anggaran aspirasi dewan saat ini mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya mencapai sekitar Rp1,2 miliar, kini berkurang menjadi sekitar Rp600 juta sehingga usulan yang masuk harus diprioritaskan berdasarkan kebutuhan paling mendesak.

Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap menjaga komunikasi dan tidak segan menyampaikan kebutuhan yang memungkinkan untuk dibantu secara pribadi.

“Silaturahmi harus tetap dijaga. Kalau ada kebutuhan yang bisa saya bantu di luar program reses, seperti semen, bola voli, atau net voli, insyaallah akan saya bantu semampunya,” ungkapnya.

Dalam sesi dialog, warga menyampaikan beragam keluhan dan harapan. Salah satu usulan datang terkait kebutuhan tirai atau cungkup makam (punden) serta lampu penerangan jalan di jalur Semagung menuju Semono.

Warga lainnya, Joko, menyoroti kondisi jalan poros Semono menuju Semagung-Durensari yang mengalami longsor dan dinilai perlu segera ditangani karena membahayakan pengguna jalan.

Dari kalangan perempuan, Siti menyampaikan harapan adanya perhatian terhadap fasilitas PAUD yang dinilai masih minim.

“PAUD kami belum memiliki fasilitas yang memadai. Kami berharap ada bantuan dan perhatian dari pemerintah,” katanya.

Tak hanya itu, pemuda desa juga meminta dukungan sarana olahraga voli yang kini mulai aktif kembali. Kelompok kesenian tradisional pun berharap adanya bantuan perlengkapan guna menghidupkan kembali seni jaran kepang di Desa Semono.

Tokoh masyarakat Budi Trapsilo menambahkan, pembangunan pepunden desa yang bersumber dari dana desa masih membutuhkan dukungan tambahan, mulai dari pembangunan cungkup, dapur hingga akses jalan menuju makam.

Sementara itu, Heru Purwanto menyoroti persoalan pendidikan pasca regrouping SD Semono ke sekolah desa sebelah. Menurutnya, banyak siswa mengalami kesulitan karena lokasi sekolah yang cukup jauh.

“Banyak siswa harus diantar setiap hari karena sekolahnya jauh. Ini perlu perhatian bersama,” ujarnya.

Melalui kegiatan reses tersebut, masyarakat berharap seluruh aspirasi yang telah disampaikan dapat diperjuangkan dan direalisasikan demi pemerataan pembangunan serta peningkatan kesejahteraan warga Desa Semono.(*)